Kamis, 20 November 2008

Selasa, 02 Desember 2008
Harga Solar Juga Akan Turun

JAKARTA - Ada kado spesial buat masyarakat Indonesia pada tahun baru nanti. Setelah menurunkan harga bensin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi sinyal bakal mengoreksi harga solar per 1 Januari 2009. Menurut SBY, para menteri terkait sudah diminta melakukan pengkajian mendalam terkait dengan penurunan harga solar tersebut.

''Kami baru saja menurunkan harga premium. Kini kami melakukan exercise apakah bulan berikutnya harga solar bisa kami turunkan,'' kata SBY saat konferensi pers di Istana Merdeka kemarin (1/12).

Dalam konferensi pers itu, dia didampingi pelaksana tugas menko perekonomian sekaligus Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menko Polhukam Widodo A.S., dan Menko Kesra Aburizal Bakrie. Hadir pula Menlu Hassan Wirajuda, Mentan Anton Apriantono, Seskab Sudi Silalahi, Mensesneg Hatta Radjasa, serta Panglima TNI Djoko Santoso.

SBY menyatakan, pemerintah masih membandingkan pengaruh penurunan harga solar terhadap APBN 2009. Setiap upaya untuk meringankan beban rakyat, kata dia, akan dilakukan dengan catatan klop dengan penyelamatan perekonomian secara menyeluruh dan utuh.

''Tentu saja, peluang ini harus digunakan sebaik-baiknya agar tujuannya bisa dicapai dan tidak ada penyimpangan lain dalam upaya kami meringankan ekonomi rakyat yang berkaitan dengan harga BBM ini,'' jelasnya.

Harga solar saat ini sama dengan bensin, yakni Rp 5.500. Harga bensin lebih dulu turun Rp 500. Pengumuman penurunan harga premium dilakukan Sri Mulyani di kantor presiden pada 6 November lalu. Penurunan harga BBM itu didasari adanya pelemahan harga minyak mentah dunia.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menambahkan, evaluasi untuk harga solar dilakukan bersamaan dengan evaluasi harga premium. Dengan begitu, kalaupun ada perubahan harga solar, paling cepat berlaku mulai 1 Januari 2009.

Dalam menentukan harga solar nanti, pemerintah berpegang pada ICP (Indonesia Crude Price). Harga ICP sekarang USD 49-USD 60 per barel. ''Kami akan amati terus,'' kata Purnomo.

Dia menuturkan, ada dua komponen lagi yang menentukan harga solar. Yakni, harga minyak dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Purnomo masih enggan menyebutkan harga solar yang akan diberlakukan bulan depan. ''Saya tidak mau mendahului,'' ujarnya. Namun, dia sempat menyebut dua kemungkinan. Yakni, turun Rp 500 atau Rp 300, sehingga harga solar bulan depan mungkin menjadi Rp 5 ribu atau Rp 5.200.

Selain BBM, pemerintah menaruh perhatian besar pada masalah pupuk. Menurut SBY, kelangkaan pupuk lebih disebabkan pesatnya perkembangan pertanian. Produksi beras akhir-akhir ini meningkat tajam. Imbasnya, tentu saja kebutuhan pupuk juga meningkat.

''Kami terus berupaya mengatasi persoalan pupuk ini. Meningkatkan produksi, menggunakan cadangan yang ada, dengan harapan distribusinya tepat, sampai sasaran, dan bertanggung jawab,'' tegas SBY.

November Deflasi

Untuk kali pertama dalam dua tahun terakhir, deflasi (penurunan harga-harga) bahan makanan hingga 0,67 persen terjadi pada periode November lalu. Selama ini, bahan makanan selalu menjadi pemantik inflasi. Inflasi November lalu sudah mulai jinak, yakni 0,12 persen. Dengan begitu, inflasi kumulatif mencapai 11,10 persen (Januari-November) dan tahunan (year on year) 11,68 persen.

''Sejak 2007, tidak pernah ada deflasi bahan makanan. Jadi, saya pastikan dalam dua tahun terakhir, ini yang pertama,'' kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di kantornya kemarin (1/12). Selain bahan makanan, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,31 persen. Deflasi kelompok itu terjadi pada November meski harga premium baru diturunkan Desember.

Pemerintah memperkirakan inflasi pada akhir tahun mencapai 12,3-12,5 persen. Rusman menjelaskan, inflasi mulai terkendali karena tekanan permintaan sudah jauh berkurang. Ini menyebabkan tekanan harga sudah tidak terasa pada November. Menurunnya tekanan permintaan ditunjukkan dengan berkurangnya permintaan atas kebutuhan sandang dan perumahan.

''Demand sandang dan perumahan menurun drastis. Bahan pokok makanan dan minuman juga sudah normal kembali seperti sediakala,'' kata Rusman. Meski terjadi kekurangan permintaan, dia berpendapat bahwa daya beli masyarakat masih terjaga.

Selama November, produksi bahan pokok juga memadai. Selain itu, harga-harga komoditas di pasar dunia terus menurun. Imported inflation akibat depresiasi kurs rupiah belum terasa pada November.

Untuk inflasi Desember, Rusman memperkirakan tekanan permintaan terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru 2009. Namun, dia memperkirakan tekanannya tidak sebesar Ramadan dan Lebaran. Menurut Rusman, penurunan harga premium akan menyumbang deflasi 0,35 persen. "Penurunan premium secara instan terhadap inflasi adalah 8,3 persen. Bobot premium 4,3 persen. Jadi, bisa memperlambat inflasi 0,35 persen," bebernya.

Kelompok barang dan jasa yang mengalami inflasi pada November adalah makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,13 persen; serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,23 persen. Lalu, kelompok sandang 0,72 persen, kesehatan 0,37 persen, serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,26 persen.(tom/sof/oki)

Tidak ada komentar:

Pengikut:

"http://uangpanas.com/?id=asharsgy"